Translate

Kamis, 18 Januari 2024

Sinopsis Death's Game Episode 8 (END)

All Content From TVING




ddrama-queen.blogspot.com – Sinopsis Death's Game Episode 8. Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek episode sebelumnya. Selamat membaca...^^





EPISODE 8 - JANGAN MENCARI MAUT, MAUT AKAN DATANG MENCARIMU.

Choi Yee Jae mundur ke belakang saat melihat bayangan putih mucul seraya berteriak jangan.

“Aku selalu berpikir aku tahu banyak tentang ibuku. Namun, ternyata aku tidak tahu apa-apa. Dahulu Ibu adalah gadis dengan impian besar. Gadis penuh impian itu menjadi wanita, istri, lalu seorang ibu. Dia bahkan punya anak dengan pria yang dia cintai. Kebahagiaannya, yang dia pikir akan bertahan selamanya hanya bertahan sekejap.

Dahulu aku tidak tahu bahwa alasan ibuku tidak hancur adalah karena aku. Ibuku melewati terowongan yang jauh lebih gelap dan dalam daripada yang pernah kulalui. Namun, dia tidak pernah menyerah atau menoleh ke belakang. Dia terus melangkah maju dengan susah payah. Aku adalah orang yang diberkati karena memiliki ibu seperti itu. Namun, bodohnya aku tak pernah bersyukur.”










Ibu Choi Yee Jae berada di rumah sakit, menelepon sang putra tapi teleponnya tidak di jawab. Dengan segera ibu Choi Yee Jae berganti pakaian kemudian menjawab telepon masuk dari kantor polisi yang memberi tahu kalau sang putra tewas.

Dan sekarang, ibu Choi Yee Jae menemui sang putra dan menangis saat melihat keadaannya.

Ibu Choi Yee Jae dan Lee Ji Su menangis saat melihat Choi Yee Jae di kremasi.

Dan sekarang, ibu Choi Yee Jae berada di kantor polisi memberikan pernyataan atas kematian sang putra yang bunuh diri dengan menyalahkan dirinya sendiri.

Ibu Choi Yee Jae menjalani kehidupannya seperti biasanya tapi dengan kesedihan.

Choi Yee Jae menangis saat melihat perjuangan sang ibu.

“Maut selalu tahu apa kesalahanku. Aku mengalami 12 kematian menyakitkan sebagai hukuman atas perbuatanku. Kematian yang paling menyakitiku bukan saat aku mati terbakar atau saat anggota tubuhku terpotong.

Melainkan kematian seseorang yang sangat aku sayangi. Rasa sakit luar biasa yang kuberikan kepada ibuku telah kembali kepadaku.”






Choi Yee Jae memutuskan untuk terus menjalani kehidupannya sebagai ibunya sendiri.

Dengan menaiki kereta Choi Yee Jae pergi ke tempat kerjanya dan segera membersihkan semua ruangan yang berada di gedung tempat kerjanya, karena ia bekerja sebagai petugas kebersihan.

Choi Yee Jae menghentikan langkanya yang menaiki tangga karena lutut kakinya sakit dan kembali melanjutkan langkahnya.

Di rumahnya, Choi Yee Jae mengobati sakiy di lututnya dan menemukan tabugan milik sang ibu yang di siapkan untuk dirinya di dalam laci.

Choi Yee Jae mengambilnya dan mengingat kenangan sewaktu kecil bersama yang ibu.











Choi Yee Jae keluar dari kereta dan pergi ke rumah abu tempat dirinya di simpan. Di sana Choi Yee Jae melihat sang ibu yang selalu datang mengunjunginya dan menangis saat mendengar curhatan ibunya.

Choi Yee Jae melihat tali sepatu yang di kenankannya terlepas, membuatnya mengingat kenangan saat ia memberikan sepatunya sebagai hadiah kepada sang ibu.

Hari berikutnya, Choi Yee Jae menadaki gunung, tempat yang di sukai oleh ayah dan ibunya.

Sesampainya di atas gunung, Choi Yee Jae terkagum saat melihat pemandangan di depannya.

Dengan menangis, Choi Yee Jae menatap sang ibu seraya meminta maaf karena tidak menepati janjinya kemudian mengenggam tangan sang ibu dan melihat pemandangan bersama.






Malam harinya, Choi Yee Jae baru menuruni gunung. Di tengah perjalannya, Choi Yee Jae terjatuh karena menginjak batu hingga membuat dirinya terguling di bawah.

Choi Yee Jae melihat kakinya yang terluka dan mengeluarkan darah.

Dengan susah payah, Choi Yee Jae bangun dari jatuhnya, meminta bantuan tapi tidak ada satu orang pun kemudian kembali menuju atas dan berhasil sampai di jalan.

Choi Yee Jae membuka matanya, menemukan keberadaan dirinya di rumah sakit.

Choi Yee Jae menangis seraya mengucapkan terima kasih kepada sang ibu yang selamat dan meminta maaf saat merasakan kesedihan sang ibu saat dirinya meninggal.











“Untuk memenuhi keinginan ibuku agar aku bisa hidup sampai akhir, aku harus melanjutkan hidup. Aku hidup selama 32 tahun yang mana lebih lama daripada saat aku hidup sebagai Choi Yee Jae, untuk mengenang orang-orang yang aku antar pergi.”

“Kau tak benar-benar hidup jika terus hidup dalam ketakutan. Namun, karena aku pengecut, aku selalu hidup dalam ketakutan. Takut dunia tidak akan mengakui nilaiku, takut aku akan tertinggal dari rekan-rekanku, dan takut aku akan ditolak, akhirnya aku bunuh dir karena ketakutan ini sebelum hidupku bisa mekar.

Aku baru sadar setelah mati bahwa hidup itu sendiri adalah kesempatan. Lalu rasa sakit yang kukira meliputi seluruh hidupku hanyalah sebagian kecil dari itu. Hari cerah. Hari hujan. Hari berangin. Aku belajar bahwa hidup terdiri dari hari-hari yang berbeda ini. Lalu tidak apa-apa gagal selama aku terus maju. Setelah aku berakhir di dalam tubuh ibuku, barulah aku menyadari ini.”

Choi Yee Jae menutup matanya, membuat air matanya menetes dan meninggal dengan terduduk di kursi roda.












Choi Yee Jae terbangun kembali kemudian berjalan mendekati Death kemudian berkata aku tak pernah mengira akan mengatakan ini tetapi aku sangat merindukanmu, aku hanya tidak sadar akan butuh waktu selama ini untuk bertemu denganmu lagi. Aku kesulitan merasakan berlalunya waktu, namun memang kupikir akan lebih lama dari biasanya ucap Death.

Itu cukup lama bagiku dan aku menghabiskan semua waktu itu memikirkan apa yang harus kulakukan saat bertemu denganmu lagi ucap Choi Yee Jae seraya berlutut kemudian bertanya bisakah kau menembakku sekali lagi saja. Aku sudah menghabiskan semua peluru yang boleh kupakai untukmu ucap Death.

Aku tahu, tetapi tolong beri aku kesempatan untuk hidup sebagai diriku sekali lagi, biarkan aku menjalani hidup lagi sebagai Choi Yee Jae, umohon padamu ucap Choi Yee Jae dengan menangis.

Kenapa tanya Death dan di jawab aku ingin memeluk ibuku untuk terakhir kalinya oleh Choi Yee Jae yang masih menangis.

Kau bilang akan mengalahkanku dengan mengikuti peraturan yang kubuat dan kau menang, kau berhasil menghindari kematian dan selamat, kau sudah menerima hukuman penuh dariku, yang tersisa untukmu sekarang adalah penghakiman Tuhan ucap Death kemudian mengelauarkan peluru, mengisinya pada pistol miliknya.

Choi Yee Jae berdiri mendekati Death kemudian mengambil pistolnya kemudian mengarahkan kepada kepalanya dan menembak dirinya sendiri.





Dan sekarang Choi Yee Jae berada di tempat ia menjatuhkan diri dari gedung untuk bunuh diri.

Choi Yee Jae menjawab telepon masuk dari sang ibu membuat surat yang berada di bawah ponsel miliknya terbang.

 

SELESAI…….

Facebook Twitter