Translate

Sabtu, 30 Januari 2021

Sinopsis ANTHOLOGY part 1


All content from tvN 



Di sebuah kelas tampak seorang guru wanita sedang menerangkan pelajarannya tapi diantara semua muridnya nggak ada satupun yang mendengarkannya.

Dia adalah Shin so yi. So Yi mengetuk-ngetuk papan tulis meminta muridnya agar fokus padanya. Muridnya malah ada yang mainin lagu. So Yi dengan sabar nanya apa itu? Lagu yang nggak pernah ia dengar.


Di barisan belakang ada anak yang lagi nelpon. So Yi mengingatkannya agar nelponnya nanti aja. Anak itu sama sekali nggak denger peringatan dari So Yi.

So Yi kesal. Merasa nggak di hargain. Ia maju menghampiri murid itu dan menyita ponselnya.

Anak itu malah nanya apa yang So Yi lakuin. Dengan tegas So Yi menjawab kalo dia lagi ngajar.


Anak itu minta ponselnya di balikin. So Yi memintanya agar menjaga sopan santunnya. Di sini bukan hanya ada dia aja. Teman-temannya juga ingin belajar.

So Yi akan mengembalikan ponsel itu setelah pelajaran selesai. Anak itu bangkit dan minta di balikin sekarang. Anak itu maju. So Yi pikir dia sesuatu karena di panggil guru?

Anak itu melihat sekitar dan ngasih tahu kalo nggak ada yang ngedengerin So Yi. Anak itu mengambil paksa ponselnya dan pergi ninggalin kelas.



Karena hal itu, So Yi jadi dapet teguran dari atasannya. Ia ngasih tahu So Yi kalo guru les itu beda dengan guru sekolah. Bukan can ngajar yang penting. So Yi juga harus bercanda dengan mereka dan membuat mereka nyaman.

Ah, so Yi ternyata nggak tahu tentang itu. Apa So yi pernah ngelihat laman pencari kerja? Ada banyak orang yang mengantri buat ngedapeton pekerjaan itu. Bagi lulusan universitas nggak ternama di Amerika yang nggak bisa mendapat kerja, bukankah ini yang bisa mereka lakuin?

So Yi melihat bibir atasannya yang terus ngomong merendahkannya. Kalo So Yi lulusan Harvard, akankah dia kerja di sana?



So Yi pulang ke apartemennya dengan malas. Ia berhenti sejenak di depan pintu. Buat apa hidup? Ia melepaskan stiker iklan restoran yang tertempel di pintu. So Yi melihat ada sebuah kardus di dekat pintu.




So Yi menelpon bibinya sambil membuka kardus itu. Isinya adalah makanan. So Yi nanya ke bibinya kenapa repot-repot ngirim sebanyak itu?

Bibi merasa itu nggak  banyak. Ia nyuruh So yi untuk memakannya. Nantinya juga bakalan cepet abis. Bibi nyaranin agar So yi nyimpen kentang dan ubi-ubiannya di tempat yang teduh. Makan kastanye-nya saat So Yi bosan.

So Yi protes, orang kuno macam apa yang makan dirumah? Bibi tetep nyuruh So Yi buat memakannya meskipun nggak sempat. Paman yang baru datang mengiyakan.

So Yi mengambil makanan yang lainnya dan nanya apa itu? Bau banget? Apa So Yi bisa memakannya? So Yi minta sama bibinya agar berhenti mengiriminya.

Ia bakalan beli sendiri kalo dia butuh. Bibi tersenyum. Paman nyuruh So Yi datang dia bahkan udah lupa sama wajahnya So yi. So Yi sebenarnya juga ingin. Tapi jadwal mengajarnya itu full banget.

Soo Yi di situ sangat populer tahu? Mendaftar di kelasnya lebih sulit daripada tiketing konser. Bibi nanya ti apa?

Ah, bibi merasa dia bahkan nggak ngerti sama omongan So Yi. So Yi heran kenapa bibinya bisa berubah gitu? Bibi tertawa.




So Yi membuka kardusnya lagi dan menemukan sesuatu. Ia nanya sama Bibi ngirim apa lagi? Bibi ingat kalo ia menemukannya saat merapikan perpuatakaan. Itu kan yang So Yi buat dulu. Di situ ada namanya juga. So Yi terpaku melihat buku itu. Ia membukanya. Antologi.

Flashback...


16 tahun yang lalu. Nonsan.

Di pedesaan sebuah bus berhenti. So Yi remaja keluar dari bus itu bersama dengan pamannya. So Yi mengeluh karena bau kotoran.

Paman ngasih tahu So Yi yang nggak tahu betapa berharganya bau itu? Itu bagus buat tubuh. Paman nyuruh So Yi untuk menghirupnya sebanyak-banyaknya. 


Paman bertanya apa So Yi tahu gimana fertilizer dibuat? Waktu itu So Yi kesana saat ia berumur 5 tahun. Ia hampir jatuh ke kubangan penuh kotoran. So Yi menegur pamannya kenapa ia membicarakan itu?

Makanya menurut So Yi pedesaan itu hanya cocok untuk liburan. So Yi mengeluh sebenarnya siapa dan buat apa manusia hidup disana? Paman membantah So Yi, lalu apa dia adalah hantu?

So Yi mengeluh lagi. Menyebalkan. Tapi habis itu dia menginjak kotoran. So Yi jadi makin kesal. Paman mengambil itu dan menciumnya. Menurut paman itu bukanlah kotoran. Paman nyuruh So Yi menciumnya. Ih, jijik banget. 


So Yi udah sampai di rumah nenek. Nenek ngasih tahu So Yi kalo mulai sekarang ini adalah kamarnya. Entah So Yi bakalan menyukainya apa enggak.

So Yi melepaskan tasnya dan melihat ada meja belajar. Ia nanya sama nenek buat apa beli meja belajar segala?

Nenek seperti menyembunyikan sesuatu. Ia lalu berbaring. Nenek mengatakan kalo disini masih dingin. Bahkan lebih dingin dari Seoul.

Nenek memanggil Min Cheol agar segera menyalakan api. Nenek bertanya So Yi belum sarapan, kan? Nenek mengaku membuat makanan tapi lupa.

Nenek lalu bangkit dan nanya So Yi apa mau di rebuskan jagung? So Yi bilang nggak perlu.

Nenek meraba rambutnya. Ia terlalu menanti kedatangan So Yi. Nenek keluar dan menutup pintu. Nenek meminta agar So Yi menunggunya sebentar. 



Nenek mencari Min Cheol dan menyuruhnya untuk segera menyalakan api karena nenek mau memasak. Paman Min Cheol lagi dikandang kambing.

So Yi keluar dari kamarnya dan melihat paman. Ia bertanya paman ngapain masuk kesitu segala? Paman bisnis sampingan? Usaha pangan sehat? Bahan makanan? Tanya paman.

Paman bicara dengan kambingnya. Memanggilnya anak-anak dan menyuruh mereka agar menutup telinga mereka dan nggak usah ngedengerin So Yi.

So Yi melihat mereka hanya sebagai kambing putih dan hitam. Menurutnya itu lumayan kalo dijual. Paman ngasih tahu So Yi kalo mereka namanya Whitie dan Blackie.

So Yi hanya mendesah. Pamannya benar-benar. Paman nanya julukan Yeo Min Cheol? Haramau Nonsan  (nanya di jawab sendiri).

Prajurit bahkan nggak mampu menatapnya. So Yi hanya geleng-geleng lalu pergi ninggalin pamannya. 


So Yi duduk. Paman bertanya-tanya So Yi mirip siapa bisa ngomong kayak gitu? So Yi menyahut, yang pasti nggak mirip pamannya. Dia mirip sama nenek.

Paman meninggalkan kambingnya dan ngasih tahu So Yi kalo dia mulai masuk sekolah Senin besok. Karena sekolahnya dekat, So Yi bisa jalan kaki aja. So Yi bertanya-tanya apa dia harus sekolah?

Paman menegur So Yi, berisik! Paman akan pergi dengan So Yi besok. So Yi perlu beli seragam baru. So Yi merasa nggak perlu. Ia hanya sebentar disini. Buang-buang uang aja. Paman membantah, kalo So Yi pindah sekolah, dia harus pakai seragam. So Yi nggak mau.

Nenek menengahi, So Yi bilang kan nggak perlu. Nenek malah nanya So Yi mau di rebusin kentang? So Yi nyuruh nenek buat ngasih gula yang banyak.

Nenek mengiyakan kentang emang enaknya dimakan pakai gula. So Yi emang mirip sama nenek. Tahu caranya makan. Paman juga bilang kalo merela emang mirip.


Hari udah malam. So Yi mau memakai ponselnya tapi nggak bisa karena nggak ada sinyal.

Ah So Yi jadi kesal. Ia keluar untuk mencari sinyal. Ia udah berjalan jauh tapi nggak dapet-dapet juga. 


So Yi akhirnya dapat sinyal dan langsung menelpon. So Yi menelpon ibunya. Mengatakan kalo sekarang ia dirumahnya nenek.

Ibu dengan lembut bertanya pada So Yi kenapa ia belum tidur jam segini? So Yi ngasih tahu kalo disana masih belum jam 10. Ia merengek nggak bolehkah dia nggak usah sekolah?

Lagian dia kan cuman sebentar  disana. Ia akan menganggapnya liburan selagi menunggu kedatangan ibunya. Ibu menegur So Yi, ngomong apa itu?

Ibu minta So Yi  buat nunggu bentar. So Yi mengeluh lagi kalo tempatnya sekarang sangat menyebalkan. Dikamar mandinya nggak ada shower, handuknya bau, airnya juga keruh.

Seseorang bertanya pada ibu, siapa yang nelpon jam segini? Ibu bilang enggak dan nyuruh orang itu untuk tidur lagi. So Yi minta di jemput. Nggak tanggung-tanggung dia minta di jemput besok.

Tapi ibu masih sabar. Dengan lembut dia bilang ke So Yi kalo ibu nggak bisa bicara lama-lama. Ibu berpesan agar So Yi nggak ngerepotin nenek. Baik-baik disana, makan teratur,dan jangan sampai sakit. Baik-baik disana.

Ibu janji akan nelpon So Yi lagi. Ibu menutup telponnya padahal So Yi masih ingin ngomong. 



So Yi ngomong sendiri, kalo dia baik-baik disana apa ibunya akan berpikir kalo dia nggak papa?

Lalu ibunya nggak akan datang. Apa menurut ibunya dia bakalan nurut? Lihat aja, So Yi nggak akan beradabtasi. Ia bakal bikin kekacauan.

So Yi merasa kedinginan. Ia bertanya-tanya dia ada dimana? So Yi lalu melihat seseorang membakar jerami. Ia berkata setelah banyak hal, disini jusa ada pembakar. 



So Yi masuk sekolah dengan seragam lamanya. Ia berjalan bersama dengan guru. Guru meminta semuanya untuk duduk.

Guru menyapa murid-muridnya dan nyuruh mereka buat cepat duduk. Ketua kelas bangkit mau memberi salam tapi guru bilang hari ini nggak perlu karena ada sesuatu yang lebih penting.

Guru ngasih tahu kalo mereka punya twman baru dari Seoul. Namanya Shin So Yi. Segalanya akan terasa asing baginya jadi guru menghimbau agar mereka membantu So Yi untuk beradabtasi.

Guru meminta So Yi untuk memperkenalkan diri. Para siswa diam menunggu So Yi memperkenalkan diri. Tapi rupanya So Yi nggak denger karena lagi pakai earphone.

So Yi melepaskan earphone-nya dan bilang kalo dia nggak ada niat buat beradabtasi. Dia akan pindah ke Amerika sebentar lagi. Dia minta pada semuanya agar nggak memperhatikannya. 



Guru lalu mencarikan tempat duduk buat So Yi. So Yi langsung berjalan ke tempat itu tanpa bilang apa-apa.

Ketua kelas melihat So Yi. So Yi sendiri diam sambil mendengar lagu melalui earphone. Guru ngasih tahu kalo akan ada ulangan setelah istirahat.

Habis itu ia meninggalkan  kelas dan berpesan pada semua siswa agar bekerja keras. 


Beberapa murid perempuan menghampiri So Yi. Menurut mereka sangat terlihat jelas berbeda. Mereka menilai kalo seragam Seoul sangat cantik.

Mereka bertanya apa So Yi benar-benar akan ke Amerika? So Yi nggak menjawab. Mereka jadi penasaran tentang apa yang So Yi dengarkan.

Mereka menduga pasti lagu barat, karena dia kan akan ke Amerika. Lagu pop? So Yi pasti jago bahasa Inggris. Mereka ngasih tahu So Yi kalo di kelas Jin Hyun yang paling jago bahasa Inggris.

So Yi melihat siapa yang mereka tunjuk. Ketua kelas. Mereka nanya lagi So Yi ke Amerika mau apa? Sekolah?

Ia akan pergi bersama dengan orang tuanya? Tapi kenapa So Yi kesini? So Yi udah gedeg kayaknya. Ia melepaskan earphone-nya dan bilang ke mereka supaya mereka nggak usah pakai dialek.

Hal itu ngingetin So Yi kalo dia ada di pinggiran. Jadi dia cukup terganggu. 



Seorang siswi yang pakai bando bangkit denger omongan So Yi yang sok. Dia bertanya emang disini siapa yang nggak bisa pergi ke Amerika? Dan juga ke Seoul.

Dia ngasih tahu So Yi kalo dari sini ke Seoul cuman butuh 2 jam aja. Benarkah? Tanya So Yi. So Yi nanya kenapa trend disini ketinggalan setengah tahun dari Seoul?

So Yi melihat bando siswi itu. Itu sama persis dengan yang udah dia buang musim semi lalu. Siswi itu marah dan mau mukul So Yi. Tapi So Yi sigap menendang kursi dan mengenai siswi itu.

Dengan tenang So Yi bilang ke siswi itu untuk minggir dan jangan menghalangi sinar matahari. Siswi itu makin geram. Apa So Yi minta dipukul? 



Ketua kelas menyela, ia rasa jam istirahat udah selesai. Ia nyuruh semua orang untuk duduk. Dan semuanya nurut.

So Yi melihat Jin Hyun. Siswi tadi melihatnya dan bertanya apa yang So yi lihat? Mau di c*ngkel matanya?

Tapi baik So Yi maupun Jin Hyun nggak ada yang ngedengerin dia.  


Guru masuk dan menegur siswi tadi. Namanya Choi Sung Ji. Guru bertanya kenapa Sung Ji masih berdiri?

Apa dia nggak mau duduk? So Yi masih ngelihatin Jin Hyun. 



Guru mengatakan nggak ada pemberitahuan khusus. Udah di kasih tahu hari ini kalo mereka akan memilih siswa yang akan mengajarkan antologi.

Mereka mungkin berpikir buat apa membuat semacam itu. Tapi selama hidup yang tersisa bagi mereka hanyalah kenangan.

Guru ngasih tahu kalo sebagian besar akan di kerjakan oleh Jin Hyun. Dan mereka membutuhkan seorang lagi untuk membantu Jin Hyun. Sung ji mengangkat tangannya. Ia mencalonkan diri.

Guru bilang cukup ngerti perasaannya tapi kelinci-kelinci di peternakannya sepertinya makin kurus. Apa Sung Ji merawatnya dengan baik?

Sungji berjanji akan memberi mereka makan yang teratur. Guru bertanya lagi selain Sung Ji nggak adakah yang ingin membantu Jin Hyun? 



Jin Hyun mengangkat tangannya dan ngasih tahu guru kalo dia akan mengerjakannya bersama dengan anak baru.

So Yi dan Sung ji langsung menoleh seolah nggak percaya. Guru memutuskan kalo So Yi lah yang akan mengerjakannya. So Yi yang akan membantu. 



Jam sekolah udah selesai. So Yi memanggil Jin Hyun yang lagi jalan bersama dengan teman-temannya.

So Yi udah memanggilnya berkali-kali tapi Jin Hyun nggak denger. So Yi mencoba mendekat dan nyuruh Jin Hyun buat berhenti.

Teman Jin Hyun bertanya So Yi bicara dengan siapa? Dia, Jin Hyun atau dirinya? So Yi bilang ke kedua teman Jin Hyu  buat nggak ikut campur. Mereka akhirnya pergi ninggalin Jin Hyun.



So Yi bertanya apa Jin Hyun mengenal So Yi? Jin Hyun mengiyakan, tapi nggak juga sih. Tapi dia juga nggak bisa bilang kalo dia nggak mengenal So Yi. So Yi nanya Jin Hyun ngomong apa sih?

Jin Hyun ngasih tahu kalo double negative sama aja dengan positif. So Yi bilang itu nggak lucu. Dasar pembakar! Itu Jin Hyun kan? Tindakannya itu kriminal, tahu??!!

Jin Hyun tertawa. Dia sama sekali nggak tahu apa yang So Yi maksud. Oh So Yi ngerti. Untuk melakukan hal semacam itu tentu di perlukan muka tebal kayak Jin Hyun.

Ya udahlah. Antologi atau apapun itu, lakukan aja dengan gadis tadi. Lagian So Yi akan pergi ke Amerika. 




Jin Hyun mengiyakan. Kalo emang gitu So Yi bisa melakukannya sebelum pindah. So Yi menyela. Dia kan udah bilang nggak mau! Jin Hyun nggak ngerti bahasa Korea, ya?

Jin Hyun nggak memperdulikan omongan So Yi dan bilang sampai ketemu besok. Jin Hyun meninggalkan So Yi. So Yi kesal. Apa Jin Hyun psyco? Atau sosiopat? Semacam itu?

Jin Hyun berbalik dan ngajak So Yi bekerja sama. Tugas antologi. So Yi manggil Jin Hyun dan bilang kalo dia nggak mau tapi Jin Hyun terus berjalan dan nggak memperdulikannya.


So Yi pulang dengan perasaan kesal abis. Nenek menyambut jepulangan So Yi dengan bilang kalo bayinta udah pulang sekolah.

Nenek menghampiri So Yi dan menduga kalo teman-temannya pasti memuji kecantikannya.

So Yi mengelak. Cantik apanya? Gedung sekolahnya udah tua, mejanya juga jelek. Anak-anaknya...tanya nenek. So Yi minta nenek agar nggak ngomongin mereka.



Paman nanya bukan So Yi kan yang mengganggu anak polos seperti mereka? So Yi melepas tasnya dan duduk. So Yi nanya polos??? Paman ngasih tahu kalo mereka itu baik.

Paman melarang So Yi untuk bersikap sombong hanya karena dia dari Seoul. Dan jangan ngungkit-ngungkit soal Amerika. So Yi menyela kalo Nonsan hanya sawah dan gunung. 


So Yi nanya ke nenek apakah makanan di depannya boleh dimakan? Nenek melarang karena itu mau di buat kue. Nenek akan ngasih So Yi nanti.

So Yi ngasih tahu paman kalo dia nggak tahu kalo anak-anak itu lebih parah. Paman buruk dalam menilai orang, makanya paman masih belum menikah juga.

Ibunya aja udah dua kali menikah. Paman bertanya-tanya apakah So Yi mengoleskan lelucon di lidahnya? Meskipun semua orang di keluarga mereka pandai bicara So Yi sama sekali nggak ada tandingannya.

Nenek geram dan menyiram paman pakai air. Paman nanya kenapa nenek menyiramnya? Nenek nyuruh paman ngasih makan  So yi dan meletakkannya di kamarnya. 

Bersambung...

Facebook Twitter